Jual Novel: Siddhartha - Hermann Hesse | Aksiku - Toko Buku Bekas Online
Pemesanan Hubungi:
1. Djefi: SMS/Whatsapp: 0813-1063-6383 Line ID: djefi, Email: order.buku@aksiku.com
2. Farida: SMS/Whatsapp: 0813-1555-4445
"Harga Belum Termasuk Biaya Ongkos Kirim"
"Pengiriman dilaksanakan sehari setelah Pembayaran"

Jual Novel: Siddhartha - Hermann Hesse

Judul: Siddhartha
Penulis: Hermann Hesse
Bahasa: Indonesia/terjemahan
Kulit Muka: Soft Cover
Tebal: 218 halaman
Berat Buku: 160 g
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun: Cetakan Ketujuh - September 2011
Kondisi: Bagus (Buku Baru Stock Lama/SEGEL/Kondisi fisik sesuai foto)
Goodreads rating: 3.96
goodreads.com/book/show/52036.Siddhartha

Harga: Rp. 50.000,- HABIS

Sinopsis

Buku "Siddhartha" adalah sebuah NOVEL spiritual. Novel ini pertama kali terbit dalam bahasa Jerman pada tahun 1922. Sebuah karya klasik dunia yang mengambil latar tempat di India. Novel klasik seperti ini sudah didesain indah sejak dulu oleh para penciptanya.

Siddhartha adalah karya sastra abad ke-20 yang boleh dikatakan telah menjadi klasik. Novel ini berkisah tentang pencarian spiritual sesosok manusia yang hidup sezaman dengan Gotama Sang Buddha. Siddhartha yang muda, tampan, dan perkasa, dengan penuh nyali meninggalkan apa pun -- keluarga, sahabat, kekasih, dan bahkan Sang Buddha itu sendiri -- demi menemukan pencerahan diri. Namun, lebih dari sekadar renungan spiritual, novel ini adalah karya sastra yang berhasil. Siddhartha ditulis dengan bahasa yang puitis, mengalir bening, dan sarat dengan makna yang dalam.

Hermann Hesse, peraih Nobel Sastra tahun 1946, lahir di Calw, Jerman pada tahun 1877 dan meninggal dunia pada tahun 1962. Novel-novel awalnya antara lain Peter Camenzind (1904), Beneath the Wheel (1906), Getrud (1910), dan Rhosshalde (1914). Selama Perang Dunia I, ia aktif menyuarakan perdamaian dan antiperang. Karya-karyanya yang sukses sebagian besar lahir sesudah Perang Dunia I tersebut, seperti Demian (1919), Siddharta (1922), Steppenwolf (1927), Narcissus and Goldmund (1930), Journey to the East (1932), dan The Glass Bead Game (1943).

"Dalam perjalanannya, Siddhartha bertemu dengan teman lamanya, Govinda. Govinda mendapati sahabatnya tengah tertidur pulas di bawah sebuah pohon. Govinda menunggu dengan sabar Siddhartha yang sedang tertidur, hanya untuk menyapa. Ketika Siddhartha membuka mata, perasaan suka cita mengisi dadanya. Ia berjumpa kembali dengan sahabat yang dirindukannya. Sayangnya, karena terlalu lama tak bertemu, Govinda tak mengenali Siddhartha. Siddhartha meyakinkan sahabatnya bahwa orang yang ia temui adalah teman masa mudanya. Pertemuan yang singkat itu memaksa mereka untuk menahan rindu yang lebih lama lagi. Govinda harus kembali pada rombongan Samana-nya sedangkan Siddhartha kembali dengan tujuan hidupnya; mencari kebijaksanaan.

Siddhartha melanjutkan pengembaraannya. Ia kembali menumpang sebuah perahu. Ya, perahu yang sama yang pernah ia naiki beberapa waktu silam, dengan pengemudi yang sama, Vasudeva. Bersama Vasudeva, Siddhartha merajut hidup yang baru, melupakan semua hal yang berbau duniawi. Bersama Vasudeva, banyak kejadian yang tak pernah ia duga sebelumnya.
Pertemuan ini menjadi awal kehidupannya yang baru—awal dari penderitaan, penolakan, kedamaian, dan akhirnya kebijaksanaan."


0 comments:

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

Buku Pilihan